Sejak resmi diluncurkan pada 1 Desember 2018 lalu, setiap pulang dari atau berangkat ke Jogja, saya selalu memilih kereta Joglosemarkerto. 

Meski secara biaya lebih mahal dibandingkan naik bus atau travel, namun kenyamanan dan pemandangan indah sepanjang perjalanan menjadi alasan tersendiri menggunakan transportasi yang satu ini.

Berbeda dengan masa-masa sebelumnya, kondisi dalam gerbong kereta saat ini pun jauh lebih baik. 

Meski kerap naik di gerbong ekonomi, kini tidak lagi ditemukan penjual asongan yang menjajakan dagangannya seperti era 2000-an.

Namun, pengalaman manis naik kereta sempat tercoreng. Pada perjalanan 18 Desember 2021 lalu, untuk pertama kalinya selama beberapa kali naik Joglosemarkerto saya mengalami hal yang kurang mengenakan.

Kejadian bermula saat saya naik kereta dari Stasiun Tegal. Kereta berangkat pukul 11.22 WIB. Saat itu saya naik di kelas ekonomi, dengan harga tiket Rp115 ribu. Dari Stasiun Tegal, gerbong yang saya naiki cukup kosong. 

Bahkan, empat nomor kursi di blok yang saya duduki hanya terisi satu, yakni nomor kursi saya. 

Sisanya, tiga kursi kosong. Sementara di samping saya, ada tiga kursi yang penuh, dan satu kosong. Karena setiap blok pada kelas ekonomi terdiri dari empat kursi.

Singkat cerita, kurang dari 30 menit setelah meninggalkan Stasiun Tegal, kereta berhenti di Stasiun Slawi.

Di sini, penumpang yang naik lumayan banyak dengan rute yang cukup jauh, yakni Jogja dan Solo.

Di tengah hingar bingar penumpang yang baru naik sedang mencari nomor kursinya, datang seorang bapak dengan menggandeng dua anaknya.

Satu anaknya laki-laki, seusia anak SMA. Sementara yang satunya, perempuan yang mungkin masih duduk di bangku sekolah dasar.

Dengan buru-buru bapak tersebut menggandeng anak laki-lakinya, yang ternyata nomor duduknya di blok samping saya. 

Jadi, kini blok samping pun sudah terisi penuh. Sementara di blok kursi saya, masih kosong tiga dan hanya saya seorang yang ada di situ.

Nahasnya, bapak tersebut membeli tiga tiket yang nomor kursi dan gerbong berbeda-beda. Mungkin, bapak itu ingin duduk dekat dengan kedua anaknya. 

Jadi, ia pun meminta izin kepada saya untuk duduk di blok saya, yang masih kosong tiga.

Karena saya rasa kursi masih kosong, belum nampak penumpang yang mengisi, saya pun mengizinkan dengan harapan ketika penumpang pemilik nomor kursi tersebut datang, bapak dan putrinya itu pindah ke nomor mereka yang sebenarnya.

Kereta pun kembali berjalan, di Stasiun Purwokerto tidak banyak penumpang yang naik. Namun, persoalan datang saat sampai di Stasiun Kebumen. 

Penumpang pemilik nomor kursi yang ada di blok saya sudah naik. Seorang ibu, dan anak perempuannya, yang saya kira usianya sekitar 60 dan 30 tahunan.

Kabar buruknya, saat ibu tersebut meminta bapak dan anaknya pindah, ia tidak mau dengan alasan sudah dari tadi duduk di nomor tersebut. 

Ia juga mengatakan jika sudah mendapatkan izin dari saya, yang lebih dulu duduk di blok tersebut.

Sebenarnya saya tidak perlu khawatir dengan persoalan antara keduanya. Pasalnya, nomor kursi yang saya duduki sesuai dengan yang tertera di tiket. 

Namun, saya harus terseret karena sebelumnya sudah mengizinkan bapak duduk di nomor kursi tersebut, yang sudah tentu bukan haknya.

Jika semuanya memaksa duduk di blok tersebut, maka ada lima orang yang duduk di empat kursi. Sementara itu, nomor kursi asli dari bapak dan putrinya itu ada di gerbong lain yang cukup jauh. 

Karena merasa paling muda dan merasa ikut bertanggung jawab atas persoalan tersebut, yang mengizinkan bapak dan putrinya duduk di nomor kursi itu, akhirnya saya pun mengalah. Saya meminta menukar tiket saya dan milik bapaknya. 

Padahal, sebelumnya saat ada pemeriksaan tiket si bapak mengatakan, akan pindah ke nomor kursi sebenarnya jika penumpang pemilik nomor kursi yang ia duduki datang. Namun, setelah beneran terjadi, ia kekeuh tetap duduk di kursi itu.

Sialnya, saat saya beres-beres mengambil tas semua orang di gerbong tersebut menatap dengan sinis ke arah saya. Seolah-olah saya lah sumber kegaduhan tersebut. 

Niat baik memang tidak selalu dianggap baik, niat menolong memang tidak selalu dibalas dengan ucapan terima kasih.

Bahkan, saat saya jalan menyusuri lorong gerbong untuk pindah ke gerbong lainnya sesuai nomor kursi milik bapak tersebut, seakan-akan semua mata tertuju kepada saya. 

Jujur langkah kaki terasa berat, lorong gerbong kereta yang pendek pun terasa jauh. Rasanya pengen segera keluar dari gerbong yang penuh kenangan pahit itu.