Selama nyantri di Cirebon, saya memiliki teman akrab asal Subang bernama Syarif. Dia kakak kelas saya, dua tingkat lebih senior.
Meski demikian, saya dan Syarif cukup dekat. Bahkan, setiap musim liburan tiba, kami memutuskan tidak pulang dan memilih ikut ngaji di asrama lain.
Saya dan Syarief memiliki banyak persamaan, termasuk soal kebiasaan hobi diskusi dan debat mengenai hal-hal yang jarang diperdebatkan di kalangan santri.
Bahkan, saat masih duduk di bangku kelas 10 SMA, saya sudah dicekoki buku-buku filsafat oleh Syarief, agar diskusi makin seru. Katanya!
Kedekatan saya dengan Syarief pun mau tidak mau membawa saya ke lingkaran pertemanan Syarief di sekolah. Yang mana, saat itu Syarief tercatat sebagai kelas 12 IPA 1, yang dikenal sebagai kelasnya anak-anak cerdas, langganan ikut olimpiade, dan rata-rata anak kursus Bimbel.
Beberapa kali saya diajak Syarief mengikuti ruang diskusi teman kelasnya. Seru, semua orang aktif memberikan pandangan dan pendapat. Sama sekali tidak ada kata malu atau ragu-ragu saat seseorang mengutarakan pendapat.
Hal tersebut sedikit banyak membuat saya belajar bagaimana bisa PeDe saat berbicara di depan orang. Saat mengemukakan argumen, saat menerima perbedaan pandangan.
Hingga akhirnya, teman-teman kelas Syarief banyak yang masuk ke perguruan tinggi keren di Jakarta, Bandung, dan Jawa Barat. Beberapa masuk ke ITB, IPB, UI, hingga Unpad.
Masuk dilingkungan orang-orang yang memiliki semangat belajar tinggi membuat saya juga ikut terpengaruh. Bahkan, Syarief lah yang mengusulkan saya masuk ke kelas IPA saat pemilihan kejuruan di kelas sebelas.
Dicekoki buku filsafat, masuk ke kelas IPA, dan bergaul dengan orang-orang yang menyukai Sains membuat saya cukup pengin mengikuti kakak-kakak kelas saya. Tentu, harapannya bisa kuliah di ITP, IPB, atau Unpad.
Saat itu tidak ada pikiran sedikitpun kuliah di Jogja. Selain tidak banyak informasi mengenai Jogja, kakak-kakak kelas saya yang dikenal pintar pun jarang yang kuliah di Jogja. Kebanyakan di Jakarta atau Bandung.
Bahkan, saat seorang teman mengatakan ingin kuliah di Jogja, di UIN, dalam hati saya, "Kuliah kok di UIN, mau jadi ustaz?,". Yah. saat itu memang saya lebih menyukai pelajaran Sains.
Sempat menyepelekan UIN Jogja, tapi takdir berkata lain. Setelah gagal daftar di Unpad, saya akhirnya tersesat di jalan yang benar, diterima di UIN Jogja.
Ojo Moyok Mengko Ngoyok! (Jangan menyepelekan nanti mengejar-ngejar). Mungkin itu pepatah yang tepat untuk menggambarkan kejadian yang saya alami.
Setelah kuliah di UIN Jogja, ternyata saya bisa menikmati dan sangat menikmati pola kehidupan dan pembelajarannya. Bahkan, bisa dikatakan saya tidak pernah bolos kuliah.
Selain kos saya dulu di dekat kampus, kuliah bagi saya adalah hal yang menyenangkan karena banyak diskusi daripada mendengarkan dosen menerangkan.
Singkat cerita, di semester awal perkuliahan, saya mulai dekat dengan seorang teman wanita. Saya belum banyak mengenal dia. Hanya tahu nama dan Nomor Induk Mahasiswa nya (NIM), karena dia kebetulan satu kelas di semester pertama dan kedua.
Meski belum banyak mengenal, tapi saya merasa tertarik dengan sosoknya. Dia bukan jebolan anak pesantren, tapi penampilan dan tingkah lakunya tidak kalah sopan dengan mereka yang jebolan pesantren.
Hingga suatu ketika, saya memberanikan diri mengajaknya jalan-jalan. Muterin kota Jogja. Saya rasa dia mahasiswa baru yang perlu tahu keindahan sudut-sudut kota Jogja.
Dia pun menerima tawaran saya untuk jalan-jalan dengan menggunakan sepeda motor. Sepanjang perjalanan, kami bercerita banyak hal. Saya mulai tahu jika dia suka banget dengan sate ayam, suka warna ungu, sangat mengidolakan aktor Thailand Mario Maurer, dan tidak suka dengan bau asap rokok, apalagi bau rokoknya.
Namun, satu hal yang belum saya tahu. Dia asli orang mana. Itu merupakan kesalahan fatal dan kebodohan fundamental dalam teori perkenalan.
Kebodohan itu pun benar berakibat fatal. Suatu ketika, entah dari mana asal mula obrolannya, tiba-tiba ketika sedang ngobrol dengan dia, saya mengatakan jika rata-rata mahasiswa yang cantik di Jogja, justru bukan asli warga Jogja.
Padahal, saat itu saya sedang mencoba memuji kecantikan dia, yang ternyata dia orang Jogja.
Kena lagi, Ojo Moyok Mengko Ngoyok!
Setelah dia menyebut jika dirinya asal Jogja, saya langsung cepat-cepat meralatnya. Pernyataan saya di atas tidak berlaku lagi setelah dia mengaku asli Jogja.
Bahkan, kini gadis Jogja ini yang kini menjadi tunanganku, dan bulan depan menjadi istriku!
Lagi-lagi, Ojo Moyok Mengko Ngoyok!
0 Comments
Posting Komentar