"Kader LPM Rhetor merupakan pewaris risalah kenabian!". Itu lah satu kalimat yang selalu membekas di pikiran saya, meski kata itu sudah diucapkan hampir sepuluh tahun yang lalu.
Pertengahan tahun 2013 untuk pertama kalinya saya diperkenalkan dengan Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Rhetor. Jujur, momen perkenalan dengan organisasi yang akhirnya menjadi kampus kedua bagi saya ini, tidaklah begitu berkesan.
Pasalnya, perkenalan tersebut justru datang dari obrolan basa-basi saya dengan Haedar, teman kelas yang lebih dulu 'ngurip-nguripi' Rhetor.
Sejauh ingatan saya, obrolan basa-basi tersebut terjadi usai jam kuliah di lantai tiga gedung Fakultas Dakwah dan Komunikasi. Saya dan Haedar yang baru saja mengikuti mata kuliah yang sama, kemudian turun untuk menuju ke lantai pertama sambil membicarakan hal-hal sepele yang lebih ditujukan untuk mengusir keheningan sepanjang perjalanan menuju lantai satu itu.
Di tengah obrolan itu, Haedar kemudian menanyakan kesibukan saya. Tentu, sebagai mahasiswa yang masih lumayan muda, saat itu waktu saya hanya dihabiskan untuk kuliah, main, dan hal-hal yang tidak begitu penting lainnya.
Haedar pun kemudian mengajak saya untuk bergabung dengan LPM Rhetor. Dalam waktu dekat, akan ada pembukaan pendaftaraan anggota baru, katanya.
Meski hanya tahu informasi mengenai LPM Rhetor cukup sedikit, hasil obrolan dari lantai 3 ke lantai 1, saat itu saya langsung mengatakan akan mencoba mendaftarkan diri. Bukan karena tertarik, tapi lebih untuk jawaban basa-basi, dan tidak enak jika mau menolak ajakan Haedar.
Sialnya, beberapa hari setelah obrolan saya dan Haedar itu, ternyata benar. LPM Rhetor membuka pendaftaran anggota baru. Nampak sebuah meja kecil beralaskan tikar dan bekas spanduk kegiatan mahasiswa, terletak di pojok lorong dekat Kantin Dakwah.
Lokasi tersebut cukup strategis. Pasalnya, mahasiswa yang akan atau selesai mengikuti jam kuliah, saat itu kebanyakan melalui jalan tersebut. Termasuk saya.
Di atas meja kecil terdapat buku tebal untuk mencatat siapa saja yang sudah mendaftarkan diri. Sementara itu, di dekat meja, saya melihat Haedar dengan rambut gondorngnya, tengah ngobrol dengan sesekali mengepulkan asap rokok yang entah sudah batang yang ke berapa yang ia isap, di pagi itu.
Lagi-lagi, merasa tidak enak karena pernah mengatakan akan mendaftarkan diri di Rhetor, saya pun akhirnya menghampiri Haedar, ngobrol ini-itu, hingga akhirnya menuliskan nama di buku besar yang ada di meja kecil itu.
Namun, kejadian proses pendaftaran yang tidak begitu berkesan, nyatanya mengantarkan saya mengikuti dinamika organisasi yang sangat berkesan dalam sejarah perjalanan hidup saya.
Kesan pertama yang paling membekas ialah sebuah pernyataan, jika kader Rhetor ialah pewaris risalah kenabian. Yang mana, setiap kader harus memiliki kecerdasan membaca kondisi sosial(fathonah), jujur dan benar dalam menyampaikan pemberitaan (sidiq), dapat dipercaya sebagai agen pembuat berita atau jurnalis (amanah), dan selalu menyampaikan apapun yang dianggap penting dan untuk kebaikan masyarakat (tabligh).
Sebagai seorang mahasiswa UIN, saya cukup terkesan mendengar pernyataan tersebut. Menurut saya, saat itu, pernyataan tersebut merupakan realisasi integrasi interkoneski antara keilmuan humaniora dan agama yang digagas oleh Amin Abdullah, mantan Rektor UIN, dengan bahasa yang lebih kongkret. Dibandingkan dengan pemaparan integrasi interkoneski yang 'njlimet' saat Sosialisasi Pembelajaran(Sospem) ataupun saat Orientasi Pengenalan Akademik dan Kampus (Opak).
Rhetor sebagai inkubator
Semua organisasi tentu ingin melahirkan kader yang cemerlang. Namun, tidak semua organisasi bisa mewujudkan hal itu. Akan tetapi, sependek pemahaman saya tentang organisasi, Rhetor menjadi salah satu organisasi yang bisa melahirkan kader-kader berkualitas. Minimal sesuai standar yang ditetapkan organisasi.
Saat menjadi pengurus di Rhetor, saya dipercaya memegang kendali divisi Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM). Meski jauh dari kata sempurna, namun saya cukup percaya jika konsep PSDM di LPM Rhetor merupakan bentuk ideal proses kaderisasi.
Setidaknya, ada dua pendekatan pengkaderan dalam PSDM. Yakni pendekatan pengkaderan bersifat kultural, dan struktural. Mungkin pendekatan struktural setiap organisasi hampir sama. Namun, pendekatan kultural di Rhetor cukup menarik.
Pasalnya, dalam pendekatan kultural sendiri ada dua jenis. Yakni pendekatan kultural formal dan nonformal. Untuk pendekatan kultural formal, kita biasanya melakukannya untuk kader baru. Ngajak ngopi sambil diskusi tentang organisasi, menjadi salah satu contoh pendekatan kultural formal.
Adapun pendekatan kultural nonformal, bersifat lebih santai. Tidak melulu membahas soal organisasi,(bahkan kita kadang sengaja meninggalkan hal itu) apalagi diskusi materi. Kaderisasi kultural nonformal banyak dilakukan di luar kampus. Masak-masakan, rujak-rujakan, mendaki gunung, karaokean, nongkrong di angkringan atau di warung kopi, menjadi salah satu agenda rutin sebagai bentuk pendampingan kaderisasi.
Meski sekilas kaderisasi pendekatan kultural nonformal ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan kegiatan organisasi, justru hal ini memegang peranan penting dalam proses kaderisasi. Tidak sedikit kader bisa loyal dan militan bukan karena ikatan hubungan struktural. Melainkan kedekatan emosional yang sudah terjalin hasil dari pendekatan kultrural.
Sementara di pendekatan struktural, Rhetor cukup tegas memberikan pedoman kaderisasi. Diskusi harian, mingguan, hingga bulanan menjadi rutinitas wajib yang harus diikuti seluruh anggota dan pengurus. Materi dan tema diskusi pun sudah digodok matang sebelumnya. Termasuk rujukan buku pegangan yang harus dibaca para kader.
Pada tahap ini, Rhetor berhasil menjadi inkubator yang melahirkan kader-kader militan dan berkualitas. Sama seperti iknubator penetas telur, yang dibutuhkan dari organisasi ialah suhu kehangatan yang pas. Jika terlalu panas (terlalu kaku), maka kader tidak akan menemukan kenyamanan, dan gagal menetas atau dalam hal ini gagal berproses sampai tuntas.
Sebaliknya, jika suhunya terlalu dingin, (organisasi kehilangan kekuatan kebijakan), maka kader tidak akan bisa menetas sesuai yang diharapkan.

0 Comments
Posting Komentar