Padahal, semua persiapan sudah matang. Makeup, dekorasi, dokumenter, dan hal lainnya sudah dipersiapkan bahkan sebagian sudah dibayar. Undangan pun sebagian besar sudah disebar.
Hal tersebutlah yang saya alami, sebelum menggelar pernikahan pada 19 Maret 2022 lalu.
Setelah 9 tahun menjalani masa 'perkenalan', saya dan dia akhirnya memutuskan untuk menikah. Awalnya, kami merencanakan pernikahan digelar pada Desember 2021. Sedangkan lamaran digelar pada Juli 2021.
Namun, bulan Juli 2021 pandemi meledak, hampir setiap hari ada berita kematian. Bahkan, kematian akibat Covid bukan hanya tersiar di berita televisi saja, namun juga sekitar saya.
Akibatnya acara lamaran diundur dan baru bisa terlaksana pada Minggu, 24 Oktober 2021. Meski sempat diundur, Alhamdulillah lamaran berjalan dengan lancar.
Dalam lamaran tersebut juga, obrolan rencana tanggal pernikahan kemudian mencuat. Jika sebelumnya kami (saya dan dia) merencanakan pernikahan digelar di bulan Desember, kali ini harus dijadwal ulang. Hal tersebut tidak terlepas dari efek domino pengunduran tanggal lamaran.
Kedua belah pihak keluarga akhirnya sepakat, pernikahan digelar pada Sabtu, 12 Februari 2022.
Usai lamaran, saya dan dia pun mulai menyiapkan berbagai hal. Mulai dari pendaftaran KUA, mencari fotografer, lokasi nikah, hingga berburu MUA.
Namun, manusia hanya bisa berencana dan pada akhirnya Tuhan lah yang menentukannya. Setelah melakukan berbagai pertimbangan, pernikahan sepertinya lebih baik diundur.
Saya dan dia pun sepakat untuk mengundur tanggal pernikahan menjadi tanggal 19 Februari 2022. Atau mundur satu minggu dari tanggal yang disepakati saat lamaran.
Kami kembali melengkapi segala persiapan, lokasi pernikahan sudah dapat, dokumentasi aman, MUA sesuai rencana jauh hari, dekorasi sesuai pilihan, undangan digital dan cetak pun sudah dipesan.
Proses pendaftaran pernikahan, mulai pengajuan surat izin nikah di KUA Brebes, rujukan nikah di Kelurahan Karangwaru, hingga pendaftaran nikah di KUA Pajangan, Bantul, terbilang lancar.
Detik terus berganti, menit terus bergulir dan hari pernikahan pun semakin dekat.
Hingga pada Minggu, 6 Februari, atau 12 hari menjelang acara resepsi, dia merasakan meriang. Tenggorokan terasa kering, dan tubuhnya panas dingin.
Awalnya saya mencoba berpikir positif, mungkin hanya meriang biasa karena terlalu capek menyiapkan segala hal menjelang pernikahan. Di hari itu, dia meminta untuk cek ke laboratorium atau klinik, takutnya terpapar Covid.
Jujur, saat itu saya sedikit enggan mengantarkannya. Sebab, saya yakin dia hanya meriang biasa. Namun, meski yakin tidak akan terjadi hal buruk, saya tetap mengantarkannya mencarikan klinik dan lab yang buka.
Nahas, hari Minggu banyak klinik yang tutup. Kalaupun ada yang buka, terlihat pasien mengantre panjang. Akhirnya, saya dan dia pun sepakat untuk mengecek kondisi kesehatan di esok paginya.
Esoknya, Senin 7 Februari, dia melakukan cek di sebuah klinik di Bantul. Hasilnya, ternyata setelah melakukan Rapid tes, dia dinyatakan positif Covid.
Seakan belum yakin, kami kemudian melakukan tes ulang. Kali ini, kami melakukan tes PCR di klinik yang menurut kami lebih terpercaya.
Namun, lagi-lagi dia dinyatakan positif Covid. Sementara saya yang beberapa hari belakangan selalu bersama dia menemani menyiapkan segala hal untuk persiapan nikah, dinyatakan negatif.
Kabar hasil positif Covid dia pun langsung menyebar. Secara otomatis pihak klinik dan lab melaporkan ke pihak Satgas, dan diteruskan ke pihak RT/RW. Tak ayal, kini dia harus menjalani isolasi mandiri selama 13 hari.
Saat itu, keputusan resepsi akan tetap digelar atau tidak belum jelas. Yang pasti, pihak desa dari RT/RW belum mengeluarkan izin resepsi.
Beberapa hari setelah dia menjalani isolasi, kini giliran orangtua dia, ibunya, yang menyusul dinyatakan positif Covid. Setidaknya total ada 3 anggota keluarga dia yang dinyatakan terpapar Covid, dan harus menjalani karantina minimal 13 hari.
Akibat kejadian tersebut, pihak RT/RW pun semakin meningkatkan prokes. Penyemprotan desinfektan oleh Dinas Kesehatan Pajangan dan Puskemas dilakukan di kediaman dia.
Kondisi pun semakin tidak menentu, resepsi pernikahan kurang dari 10 hari lagi. Sementara semua persiapan sudah beres, dan undangan pun sebagian besar sudah disebar.
Waktu itu, saya belum memberitahu keluarga di Brebes, apa yang tengah terjadi di keluarga Jogja. Saya masih berharap ada sebuah keajaiban yang membuat resepsi bisa tetap dilakukan di tanggal 19 Februari.
Komunikasi saya dengan dia pun saat itu sangat terbatas. Kondisi kesehatan dia yang kurang baik mengharuskan dia banyak istirahat.
Satu-satunya orang yang selalu menjadi tempat tukar pikiran ialah Bang Faiz, yang selalu memberikan semangat, motivasi, dan doa kepada saya.
Nahasnya, tidak lama kemudian, Bang Faiz juga mengabarkan jika dirinya terpapar Covid. Kini, saya pun tidak bisa menemuinya lagi untuk sementara waktu.
Saat itu, kegiatan saya, dia, dan orang-orang yang terpapar Covid banyak dihabiskan di rumah masing-masing. Meski resepsi semakin dekat, kami pun tidak bisa melakukan banyak hal, kecuali berdoa dan memasrahkan segalanya kepada Sang Pencipta, Allah SWT.
Hingga akhirnya, pada 10 Februari 2022, atau kurang dari 10 hari menjelang resepsi, kami memutuskan untuk mengundur acara pernikahan. Segala hal yang sudah dipersiapkan selama ini, seakan sia-sia.
Beberapa pihak pun menyatakan pembatalan. Karena, jika acara diundur di tanggal lain, mereka sudah ada janji pesanan di tempat lain.
Setelah memberi tahu keluarga Brebes dan melakukan berbagai pertimbangan dengan berbagai pihak, akhirnya pernikahan diundur satu bulan. Yakni pada tanggal 19 Maret 2022.
Pengunduran satu bulan dipilih, dengan harapan semuanya sudah kembali pulih dan selesai menjalani masa isolasi selama 13 hari.
Usai perlahan membaik, kami pun kembali menyiapkan berbagai hal. Semuanya seakan dimulai dari awal, undangan kembali kami pesan, dan untuk yang kedua kalinya kami sebarkan ke rekan, teman, keluarga dan kerabat.
Setelah melalui proses yang melelahkan, tepat pukul 09.12 WIB, hari Sabtu 19 Maret 2022, akhirnya saya mengikrarkan akad nikah.
Meski pada akhirnya acara digelar tidak sesuai dengan konsep awal, namun Alhamdulillah semuanya berjalan lancar.
Terima kasih buat keluarga, teman-teman, dan mereka yang selalu memberikan dukungan dan doa kepada kami sehingga bisa bertahan hingga detik ini.
Momen menuju pernikahan yang penuh drama ini, seakan menjadi puncak perjuangan saya selama 9 tahun untuk mendapatkannya.
Tidak hanya itu, pernikahan ini juga menjadi titik awal perjalanan kami berdua untuk mengarungi samudera pernikahan yang penuh kejutan.
Semoga saya dan dia bisa melewati segala kejutan yang baik dan yang buruk dalam perjalanan rumah tangga ini, dengan selalu tersenyum bersama dan bergandeng tangan. Aamiin...
Naikkan volume untuk menyaksikan video berikut:
0 Comments
Posting Komentar