Seminggu sebelum peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2025, di saat kaum santri sedang sibuk menyiapkan agenda tahunan itu, mereka dikejutkan dengan tamparan keras oleh sebuah acara di stasiun televisi Trans7.
Tanpa aling-aling, tanpa basa-basi, Trans7 menayangkan sebuah acara yang memperlihatkan “budaya” pesantren. Sayangnya, mereka melihat budaya itu dalam sudut pandang yang sempit. Maklum, saya yakin orang-orang di balik acara itu tidak pernah merasakan kehidupan pesantren. Mereka tahu budaya tersebut hanya dengan cara mengintip sebelah mata di balik bilik pesantren, melalui lubang kecil bernama media sosial.
Saya sudah menonton penuh video yang ditayangkan Trans7. Dugaan saya, mereka mengambil gambar dan narasi dari informasi media sosial yang jelas sangat tidak bisa dijadikan sumber data valid.
Kekeliruan Media Massa Menjadikan Media Sosial Sebagai Sumber Data
Kurang lebih 5 tahun, saya hidup sebagai seorang santri di 3 pesantren berbeda. 4 tahun lebih mengenyam pendidikan di perguruan tinggi dengan jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam, dan 6 tahun bekerja di media massa. Waktu pendidikan saya banyak dihabiskan untuk memahami dunia ke-islam-an, pesantren, dan media massa.
Rasanya ada yang tidak benar pada proses pembuatan video yang ditayangkan Trans7 itu. Mereka hanya mengumpulkan narasi dan footage dari media sosial. Ini sebuah kekeliruan yang fatal.
Media sosial, sebagai sebuah wadah informasi, tidak mempunyai legitimasi keakuratan, kevalidan, dan keseimbangan.
Media sosial saat ini menghapus sekat-sekat sosial yang ada di realita. Orang dari latar belakang apapun, bisa memberi komentar pada bidang yang sama sekali ia tidak pahami. Termasuk soal pesantren.
Kemunculan tayangan Trans7 bermula dari munculnya narasi penolakan budaya “roan” di pesantren, oleh warganet. Hal ini menyusul kejadian robohnya bangunan di pondok pesantren Al Khoziny, di Sidoarjo, Jawa Timur beberapa waktu lalu.
Banyak warganet yang menduga jika kejadian robohnya bangunan di pesantren Al Khoziny disebabkan oleh penggunaan tenaga kerja yang bukan ahlinya, yakni para santri. Dugaan warganet tersebut semakin menguat dengan beredarnya video ribuan santri Lirboyo, tengah melakukan pengecoran sebuah gedung.
Warganet kemudian mengkritik budaya roan dengan menjadikan santri sebagai “kuli dadakan”. Narasi semakin melebar. Tidak hanya soal pengecoran, warganet juga mengkritik pedas budaya manut dan ngabdi di dunia santri. Dugaan saya, narasi-narasi inilah yang kemudian dikumpulkan oleh tim Trans7, dan dijadikan video yang menghebohkan publik belakangan ini. Padahal, narasi tersebut bukan datang dari orang-orang yang tahu seluk-beluk pesantren.
Di sinilah letak kesalahan tim Trans7. Media massa seharusnya menjadi pihak yang melakukan fungsi cek dan ricek dari narasi liar yang beredar di media sosial. Mengingat media sosial sudah menghapus sekat sosial di masyarakat, munculnya bias informasi sangat rawan terjadi.
Alih-alih melakukan cek dan ricek, tim Trans7 justru menggoreng informasi liar di media sosial, dan disajikan dalam rasa yang lebih pedas. Gaya voice over dalam tayangan itu terdengar jelas merendahkan dan mengejek budaya di pesantren.
Bukan Kali Pertama Budaya di Pesantren jadi Sorotan
Beberapa kali saya menemukan konten yang mengkritik budaya di pesantren. Baik itu soal penyiraman santri oleh pengurus asrama saat membangunkan salat subuh, atau budaya menunduk saat bertemu dengan kyai atau nyai.
Kritikan itu muncul, karena selama ini budaya pesantren begitu kental dan rapat biliknya. Orang yang tidak pernah hidup di dunia pesantren, akan terkejut dengan budaya itu. Sekali lagi, media sosial menghapus sekat sosial, termasuk sekat di balik bilik pesantren. Semua orang bisa mengintip dan mengkritiknya, tanpa memahami apa yang sebenarnya terjadi di balik bilik itu.
Tayangan Trans7 Bukan Sebuah Ketidaksengajaan
Tidak ada yang tidak sengaja di dunia media. Apa yang diproduksi dan disebarkan media, adalah sebuah rancangan matang yang sebelumnya sudah digodok matang-matang.
Demikian juga dengan tayangan Trans7 yang menyinggung pesantren. Saya yakin, sebelum tema itu disepakati dan diproduksi, sudah ada rapat redaksi untuk menentukan dan menyetujuinya.
Artinya, ada sebuah agenda setting yang tengah dilakukan Trans7. Kalau sudah begini, minta maaf saja tidak cukup untuk sebuah kejahatan yang direncanakan. Harus ada sanksi lebih untuk hal ini. Sebagaimana ultimatum dari Prof. Nadirsyah Hosen, harus ada pemecatan di tim redaksi, termasuk sosok voice over di video tersebut.
0 Comments
Posting Komentar